Gap Year
Sebenernya istilah "Gap year" baru muncul baru-baru ini, istilah keren untuk menyebutkan situasi dimana kita yang sedang menganggur setahun untuk tidak kuliah, bisa karena berbagai alasan, tapi kebanyakan orang disekitar gue dan gue sendiri pun, karena gagal dalam SNMPTN, ujian SBMPTN maupun mandiri.
Gue dan beberapa temen-temen gue mengisi waktu gapyear ini dengan les untuk persiapan ujian SBMPTN dan mandiri tahun depan, tapi ada juga temen gue yang memilih belajar di rumah sendiri tanpa harus mengikuti suatu bimbel manapun.
Hal yang paling gue ngga suka waktu awal-awal gue gap year adalah yang pertama, ditanya "kuliah dimana sekarang?" dan gue harus menjelaskan secara detail situasi gue panjang lebar karna kalo gue bilang gapyear doang, mereka ngga ngerti.
Yang kedua ngecek social media, di Instagram semua orang post twibon mereka kuliah di kampus ini, jurusan ini, snapgram dapet almet baru, temen baru, suasana baru, di timeline Line mereka post cerita tentang gimana mereka bisa masuk kampus ini dll.
Sampai akhirnya gue sadar kalo ini adalah penyakit hati yang orang bilang iri, capek sendiri kalo terus banding-bandingin hidup kita dengan yang lain, ngga ada abisnya, akhirnya gue coba buat liat diri gue sendiri, ternyata ngga seburuk itu kok gapyear.
Di tempat les gue juga dapet temen baru, suasana baru, cerita baru, yang makin buat gue termotivasi untuk jangan nyerah, selalu support satu sama lain, mungkin karna kita punya kesamaan nasib, jadi lebih mengerti satu sama lain.
Pokokya beruntung banget deh ketemu orang-orang hebat ini, menurut gue mereka punya hati yang kuat, tekad yang kuat, dan berpikiran terbuka. Gue belajar banyak dari mereka.
Dan gap year ini bagi gue juga bisa dianggap sebagai pintu rezeki,
karena gue jadi punya waktu buat ngajar les renang adek sepupu gue, ngajar les anak-anak sd dirumah gue, meskipun orangnya ngga banyak, tapi setidaknya gue bisa berguna dirumah, ngga cuma numpang makan dan tidur.
Gue coba berpikir, andaikan gue ngga gap year, pasti gue masih minta-minta uang jajan ke orang tua, berfoya-foya, menghamburkan uang.
Dan beruntungnya gue, gue punya orang tua yang selalu support apapun pilihan yang gue pilih buat nentuin masa depan gue sendiri, sebenernya gue pada saat itu dihadapkan 2 pilihan, kuliah di swasta atau gap year, gue mengambil keuntungan dari umur gue yang lebih muda setahun dibanding temen-temen angkatan gue, jadi gue memutuskan untuk gapyear.
Kalo kata Oma gue, “ One step back and strive for two steps forward” yang artinya “ mundur satu langkah untuk maju dua langkah". Tutup kuping aja sama omongan negatif dari orang-orang, fokus sama tujuan aja, tau apasi orang-orang itu, yang tau diri kita sendiri ya kita sendiri.
Comments
Post a Comment